Tuesday, March 16, 2010

Maguro Sushi Terenak Sedunia

Makanan Jepang yang paling populer adalah sushi dan sashimi. Tapi tak semua orang suka karena elemen utamanya adalah ikan mentah. Orang Jepang memang suka sekali makan ikan mentah. Dulu, saya paling tidak suka makan ikan mentah. Gimana gitu rasanya, mentah kok dimakan. Tapi rupanya itu hanya soal paradigma. Sejak kecil kita terbiasa makan masakan yang diproses hingga matang. Jadi, hambatan terbesar adalah pada pikiran kita yang melihat bahwa ikan mentah itu amis dan geli.

Karena masalahnya di pikiran, dan bukan di lidah, maka membenahi pikiran adalah jalan utama untuk bisa mencicipi ikan mentah. Dan ketika hal itu diatasi, saya jamin, anda akan tergila-gila mencicipi sushi dan sashimi.

Kadang kita kerap rancu antara istilah sashimi dan ragam sushi. Sashimi adalah irisan ikan mentah. Sementara sushi adalah nasi sekepal yang diberi seiris ikan mentah di atasnya. Sushi jenis ini dikenal dengan nama Nigiri-Zushi. Jenis sushi Nigiri inilah yang populer di Jepang. Sementara, jenis sushi lain yang sering kita lihat adalah Maki-Zushi, atau sushi roll, yang disajikan berbentuk roll atau silinder. Jenis sushi lainnya adalah Temaki-zushi, yaitu sushi yang dibuat berbentuk cone. Ada satu lagi jenis sushi lain yang baru saya cicipi akhir-akhir ini. Namanya Chirashi-Zushi. Ini adalah irisan ikan mentah (biasanya tuna), telur ikan salmon, irisan telur dadar, nori dan wasabi, yang disebar dan dijadikan topping di atas nasi hangat dalam sebuah bowl. Bisa juga disebut sushi bowl.

Di pasar ikan Tsukiji Tokyo, ada banyak warung sushi yang ramai dikunjungi penggila sushi. Salah satu yang menjadi favorit banyak orang adalah Sushi Zanmai. Warung ini memang terkenal menyajikan sushi ikan tuna atau Maguro yang terenak sedunia. Soal rasa memang selera, tapi soal maguro sushi ini nampaknya anda akan sependapat. Di warung ini, anda akan dibawa melayang tinggi menikmati ekstase dari sajian maguro sushinya. Semakin segar daging ikan tuna, semakin tinggi harganya, dan semakin nikmat rasanya.

Maguro atau ikan tuna, adalah ikan yang paling pupuler untuk dijadikan sushi di Jepang. Maguro berasal dari jenis ikan bluefin tuna yang mulai langka dan dibatasi penangkapannya. Tak heran harganya bisa sangat mahal. Kalau di restoran top kota Tokyo, satu biji maguro sushi bisa dihargai 2000 yen atau sekitar Rp200.000. Tapi di Sushi Zanmai Tsukiji, harganya jauh lebih murah dan kadang sering di-Sale dengan discount yang lumayan.

Daging di bagian perut tuna, disebut dengan toro. Ini adalah bagian dari tuna yang paling lezat dan berlemak. Kalau kita memesan set maguro, maka akan disajikan urutan maguro toro berdasarkan kasta-kastanya, mulai dari yang uenak, sangat uenaaak, dan mak nyoosss. Bagian pertama yang disajikan adalah Akami. Akami adalah daging dari tuna. Kalau kita memesan maguro di restoran sushi, hampir dipastikan kita mendapatkan akami. Rasa akami ini sungguh enak dan lembut.

Setelah akami, beranjaklah mencicipi Toro. Nah, inilah bagian yang berlemak dari ikan tuna, diperoleh dari bagian perutnya. Toro dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama adalah, chutoro, yang merupakan bagian perut antara daging dan sisi terdalam perut (otoro). Rasa chutoro ini begitu ueendang gulindang, lembut, dan berlemak.

Dari chutoro, sekarang cicipi otoro atau O-toro. Inilah bagian yang paling berlemak dan lembut dari tuna, yang terdapat di sisi paling bawah dari ikan tuna. Cicipi O-toro, anda akan merasakan puncak kenikmatan. Rasanya begitu lembut tak tepermanai, meleleh di atap langit-langit mulut anda. Mencicipi toro ini, anda seolah dibawa melayang bersama ikan tuna menyelami debur lautan samudra atlantik.

Pengetahuan tentang ikan menjadi sangat penting dalam menikmati sushi. Selain Maguro, yang populer juga adalah salmon (sake), selain itu ada saba (mackerel) yang agak berlemak dan amis. Udang (ebi), kerang (hotategai), scalop (hotate), kepiting (kani), cumi (ika), octopus (tako), juga biasa disajikan sebagai sashimi atau sushi. Oh ya, ada lagi anago (belut laut) dan unagi (belut air tawar) yang lezat. Yang menarik juga untuk dicoba adalah uni (bulu babi). Rasanya segar dan lezat. Bulu babi? yup, cobalah. Mungkin inilah babi yang halal untuk dimakan hehehe… Selamat mencicipi Sushi.

Salam sushi..

Labels: ,

Kesetiaan Hachiko

Masih adakah kesetiaan di kota besar seperti Jakarta dan Tokyo? Di abad modern ini, makna kata setia seolah memudar terhempas godaan. Sebagaimana sajak Chairil Anwar dulu, Cinta adalah bahaya yang lekas pudar….. Aku seperti juga kamu, semua lekas berlalu. Aku dan Tuti + Greet + Amoi… hati terlantar….

Cinta memang lekas pudar. Oleh karenanya, kesetiaan menjadi kata keramat. Di stasiun kereta Shibuya, Tokyo, makna kesetiaan diabadikan pada sebuah patung anjing yang bernama Hachiko. Menurut cerita, di tahun 1924, Hachiko adalah seekor anjing yang dimiliki oleh Professor Huidesaburo Ueno, seorang professor pertanian di Universitas Tokyo. Semasa hidupnya, Hachiko selalu mengantar Profesor Ueno ke kantor dan menyambutnya setiap sore di Stasiun Shibuya. Hal ini berlangsung beberapa lama. Sampai dengan suatu hari di bulan Mei 1925, Profesor Ueno tidak kembali dengan kereta di sore hari. Siang itu, di Universitas Tokyo, ia terkena serangan stroke dan meninggal pada hari itu juga. Ia tak pernah kembali ke stasiun Shibuya, tempat di mana Hachiko menantinya.

Dan sore itu, Hachiko menanti di stasiun Shibuya hingga orang terakhir keluar dari kereta api. Ia tak pernah menemukan tuannya lagi. Tak putus asa, keesokan harinya, Hachiko kembali lagi ke stasiun dan menunggu sang tuan. Hari demi hari berlalu, Hachiko kembali dan kembali menunggu sang tuan di pintu stasiun Shibuya. Beberapa penumpang kereta memperhatikannya. Hachikopun mulai menarik perhatian mereka. Hachiko diajak bermain serta diberikan makanan selama ia menunggu sang tuan. Masa penantian itu berlangsung terus hingga 10 tahun, sampai Hachiko menjemput kematiannya sendiri.



Guna mengenang kesetiaan Hachiko, masyarakat Jepang membangun patung perunggu Hachiko pada bulan April 1934. Kalau kita naik kereta dan turun di stasiun Shibuya, salah satu pintu keluarnya dinamakan Hachiko Exit, atau Hachiko-guchi dalam bahasa Jepang. Menurut cerita seorang kawan, setiap tahun, pada tanggal 8 April selalu diadakan upacara mengenang kesetiaan Hachiko di patung tersebut. Kisah kesetiaan anjing memang banyak dikenang dalam berbagai cerita. Bahkan di Kitab Suci pun dikenal kisah Shahibul Kahfi, tentang para pemuda dan seekor anjing yang setia. Kalau ada binatang yang masuk surga, binatang itu adalah anjing karena kesetiaannya yang melebihi manusia.

Kini, patung Hachiko juga menjadi tempat kumpul anak muda Jepang. Katanya, kalau kita melihat seorang wanita sedang sendirian di bawah patung Hachiko, berarti dia sedang mencari pasangan. Mungkin ia berharap dapat menemukan pasangan yang setia di sana karena aura dari spirit Hachiko. Sore itu, saya melihat beberapa gadis Jepang sedang duduk sendiri-sendiri di bawah patung Hachiko. Mereka muda dan cantik-cantik. Sungguh menggoda memang. Tapi, cukuplah bagi saya sekedar memandang anak-anak muda itu di sana hehehe….. Salam.

Labels: ,

Makna Menjadi Dewasa


Menurut iklan rokok, “Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa itu pilihan”. Dan nampaknya, iklan itu menjadi valid saat kita melihat kehidupan politik di Indonesia beberapa hari terakhir. Bahwa usia tua ternyata bukan penanda kedewasaan. Banyak juga kita melihat seseorang yang usianya sudah tua namun perilakunya masih manja dan kekanak-kanakan.

Padahal, kedewasaan seseorang bisa menjadi tolok ukur kedewasaan suatu bangsa. Di Jepang, makna kedewasaan mendapat perhatian yang serius. Setiap hari Senin minggu kedua bulan Januari, diadakan upacara yang bernama Seijin Shiki atau Hari Menjadi Dewasa. Ini adalah upacara tahunan yang diadakan pemerintah lokal di setiap wilayah dengan mengundang semua anak yang telah mencapai 20 tahun. Tahun ini, hari Sheijin Shiki jatuh pada tanggal 11 Januari 2010, yang juga dijadikan hari libur nasional di Jepang.


Acara menjadi dewasa ini dipusatkan di setiap balai kota pada masing-masing wilayah atau kotamadya. Salah satunya adalah di Meguro Parsimony Hall, atau balai rakyat Meguro. Acara dimulai pada pukul 13.00 dan selesai menjelang 14.30. Di acara tersebut, para remaja berkumpul bersama mengenakan busana kimono aneka warna dan berbagai variasi. Setelah kumpul, para sesepuh dan tetua kota memberi wejangan kepada mereka tentang makna menjadi dewasa. Menurut teman warga Jepang yang dulu pernah ikut upacara sejenis, menjadi dewasa berarti bertanggung jawab akan kebebasan yang diberikan. Boleh melakukan apa saja, tapi akibatnya ditanggung sendiri, dan ia harus berani mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan. Para orang tua juga menyadari hal itu dengan tidak memanjakan dan memberi kesempatan anaknya untuk mandiri. Inilah makna kedewasaan yang ditanamkan pada upacara Seijin Shiki.

Sebagian besar remaja yang ikut dalam upacara Sheijin Shiki datang diantar oleh orang tuanya. Wajah mereka sumringah dan segar penuh tawa. Dengan mengenakan kimono, mereka melanjutkan hari dengan mengunjungi kuil yang ada di seantero Tokyo atau sekedar berjalan-jalan di kota. Cobalah berkeliling ke wilayah Asakusa, Shibuya, atau Ginza. Maka anda akan menemukan banyak rombongan anak muda Tokyo yang menggunakan kimono.

Hari itu mereka telah “dilantik” menjadi orang dewasa. Mereka boleh bebas melakukan apa saja, mau merokok, minum alkohol, ataupun - maaf-maaf - berhubungan seks. Tapi esensinya bukan itu. Esensi menjadi dewasa adalah bertanggung jawab akan keputusan yang diambilnya. Menjadi dewasa berarti menghargai kebebasan yang dimiliki dan menyadari manfaat dan kerugian suatu tindakan.

Labels: ,

Tahun Baru di Kuil Meiji

Bagi masyarakat Jepang, tahun baru bukanlah momen pesta pora. Tahun baru justru dilalui dengan nafas syahdu. Berkumpul bersama keluarga dan berdoa, adalah kegiatan pokok masyarakat Jepang di tahun baru. Tak heran kalau perayaan tahun baru di Tokyo jarang sekali masuk dalam deretan kota-kota dunia yang diliput TV. Kalau New York, Paris, dan Sydney, merayakan pesta kembang api dengan gemerlap, Tokyo merayakannya zonder terompet dan mercon.

Di tahun baru, masyarakat Jepang yang mayoritas beragama Shinto, memadati kuil (shrine) yang banyak terdapat di setiap kota. Shinto adalah agama mayoritas dan tertua masyarakat Jepang yang juga dikenal dengan sebutan Kami-No-Michi atau Jalan Dewa (Ruh). Ajaran Shinto menyeimbangkan antara pikiran, perbuatan, serta kebersihan jiwa dan fisik. Selain kuil Shinto, kuil Buddha juga menjadi tujuan hampir seluruh penduduk, baik tua maupun muda. Mereka berkumpul bersama, dan saat detik tahun baru tiba, beramai-ramai melepas balon ke udara. Ribuan balon terbang ke angkasa membawa doa dan harapan, agar sang Dewa membaca dan mengabulkan permintaan mereka.

Salah satu kuil Shinto yang terkenal di kota Tokyo adalah Meiji Shrine yang terletak di daerah Harajuku. Di tahun baru, hampir 3 juta orang memadati kuil Meiji untuk mencari ketenangan jiwa. Saking padatnya para peziarah, untuk sampai ke kuil Meiji kita harus rela antri berjam-jam lamanya. Dan pada kerumunan berjuta orang itulah, saya merayakan tahun baru 2010 di kota Tokyo. Dalam gigitan angin musim dingin yang menusuk tulang, saya lebur dan hanyut mengikuti arus para peziarah di kuil Meiji.

Kuil Meiji dibangun pada masa Kaisar Meiji (1868-1912) dan merupakan kuil Shinto tertua di Tokyo. Salah satu ciri khas dari kuil Shinto adalah pintu gerbang besarnya yang disebut Otorii. Pintu gerbang ini dibuat dari kayu Cypress (sejenis pohon cemara) yang dibawa dari Taiwan dan usianya lebih dari 1500 tahun. Sebelum memasuki Kuil ini, para peziarah umumnya membawa persembahan-persembahan yang diperuntukkan bagi para Dewa. Ada anak panah kayu, ada kertas uang dan berbagai simbol lain yang diserahkan pada sebuah gubug kecil sebelum memasuki gerbang kuil. Mereka percaya bahwa Dewa akan menerima persembahan itu dan memberi balasan yang setimpal. Tak jauh dari kuil itu, terdapat Naien Garden, sebuah taman yang konon merupakan replika surga firdaus di muka bumi. Taman itu dibangun oleh kaisar Meiji sebagai bukti cinta kepada sang permaisuri. Tamannya begitu indah karena berisikan segala jenis tanaman dari penjuru Jepang.

Masuk ke kuil Shinto harus mengikuti etika kuil. Pertama, para peziarah harus melalui otorii (pintu gerbang). Pintu gerbang itu menyimbolkan hijrahnya jiwa pada tingkatan yang lebih baik. Selanjutnya kita diharapkan menyucikan diri dengan air suci. Kita mencuci tangan, muka, dan meneguk sedikit air suci sebelum memasuki kuil. Dalam perjalanan masuk ke kuil, lemparkanlah koin pada beberapa gentong yang ada disana. Hal ini menunjukkan bahwa kita harus melepaskan diri dari ikatan kekayaan dan harta benda duniawi. Setelah itu, di dalam kuil kita diminta menundukkan badan sebanyak dua kali, dan menepuk tangan sebanyak dua kali, atau membunyikan bel. Setelah itu menunduklah sekali lagi sebelum keluar. Etika ini perlu diikuti oleh para peziarah sebagai prasyarat menuju ketenangan jiwa.

Masyarakat Jepang yang tingkat kehidupan dan ekonominya jauh di atas kita, begitu “tahu diri” dalam menyambut pergantian tahun. Bukan dengan pesta pora, namun dengan takzim memadati kuil. Merenungkan kehidupan yang sudah berlalu, dan berharap mampu menapaki jalan ke depan dalam lindungan para Dewa. Tak hanya yang tua, namun kebanyakan justru generasi muda, keluarga dengan anak-anaknya, pasangan muda, bahkan para kekasih yang sedang memadu asmara. Mereka rela mengantri berjam-jam untuk merayakan tahun baru dengan syahdu. Kultur spiritual yang kuat memang menjadi kekuatan masyarakat Jepang. Saat dunia berubah dengan pesta pora, kultur ini tak luntur diterpa godaan.

Di negeri kita, awal tahun 2010 ditandai oleh banyak cobaan, baik secara sosial, ekonomi, maupun politik. Kitapun masih berduka karena berpulangnya Gus Dur, yang kita cintai. Negeri kita sedang dirundung duka dan masalah yang belum usai. Oleh karenanya, kita bersedih melihat pesta pora perayaan tahun baru dengan mercon di mana-mana. Sungguh ironis.

Labels: ,

Mabuk Teh Oplosan

Bagi orang Jawa, ritual minum teh tak serumit orang Jepang, China, atau Inggris yang penuh ritus, mengakar, dan kaya makna. Merek-merek teh ternama, seperti Twinning dan Dilmah, menyajikan “provenance” (daerah asal) teh jenis Assam, Darjeeling, Lady Grey, Earl Grey, dan aneka ragam varian lainnya yang mendunia dan melambangkan aristokrasi budaya minum teh.

Namun bagi orang Jawa, minum teh ..ya minum teh. They simply just drink tea. Waktu saya kecil, almarhum mbah buyut di Solo kerap membuat teh nasgitel di rumahnya. Nasgitel adalah akronim dari “panas legi kenthel”. Cara membuat tehnyapun non standar, alias menerabas rambu-rambu para pecinta teh. Kita tahu bahwa teh sangat volatil. Untuk itu, menyeduhnya perlu kehati-hatian. Biasanya, teh diseduh agar senyawa katekin, kafein, serta asam amino keluar secara maksimal sehingga cita rasa dan aroma teh lebih terasa. Menuangnya juga harus hati-hati, perlu ritual sendiri agar tidak merusak rasa.

Tapi buat si mbah, ia tak peduli aturan itu. Si mbah menggodok atau merebus air di atas kayu bakar. Menjerangnya dan menggodok teh secara langsung, bukan diseduh secara lembut. Dan menuangnyapun begitu saja seolah tanpa perasaaan, tak beda dengan menuang gayung di kamar mandi. Meski demikian, soal rasa teh si mbah, hmmm jangan tanya. Selain harum dan kental, aroma kayu bakar membuat bau sangit pada teh yang membuatnya lezaat.

Untuk merek teh favorit di Jawa, bermacam-macam. Ada teh Gardoe, teh 999, teh sepeda balap, teh Gopek, teh cap Nyapu, teh Sintren, dan aneka ragam merek lain yang sulit ditemukan di Jakarta, apalagi di luar negeri. Dan malam itu, di wedhangan Muji Rahayu, sang bartender teh membawa kembali kenangan teh kreasi mbah buyut. Sang bartender tampil menunjukkan kepiawaiannya menggodok dan meracik teh. Rasanya, kampung banget. Panas, Legi, dan Kenthel.

Kalau kita cecap secara lebih dalam lagi, cita rasa teh di berbagai warung di Solo tak pernah sama. Bahkan di setiap rumah juga demikian. Mengapa? Karena ternyata mereka melakukan oplosan atau blending dari berbagai merek teh yang ada. Bagi yang suka sepat, atau manis, atau warna merah, campurannya berbeda-beda sesuai selera. Di wedhangan Muji Rahayu, kombinasi yang dipakai adalah Teh Gardoe dan Teh Sintren. Keduanya di-blended dengan takaran tertentu sehingga menghasilkan cita rasa yang sepat, sangit, namun mantab. Oplosan lain yang terkenal adalah Teh Sintren dicampur Teh 999 atau Teh Nyapu dicampur Teh 999 dgn perbandingan 2:1. Ada juga campuran teh Gopek dengan Teh Nyapu, ataupun eksperimen lain sesuai dengan selera.

Bagi beberapa orang yang tidak terbiasa dengan teh oplosan, bablas ora enak tenan rasane, alias bakal terkaget-kaget dengan rasanya. Memang, teh seperti ini tak laku di Eropa dan dunia Global. Teh dari Indonesia tidak satupun yang dikenal memiliki “provenance” top. Jenis teh yang ada tersebut memang teh kualitas rendah. Teh tersebut dibuat bukan dari pucuk pilihan terbaik, bahkan ada yang dari batang-batang teh sisa. Sementara pucuk terbaik, diekspor atau bahkan diproduksi di luar negeri. Hal ini mengakibatkan harganya selalu menjadi sangat murah karena hanya dipakai sebagai oplosan atau pencampur teh. Proses meracik teh ala Indonesia juga tidak ada yang terkenal mendunia, meski Indonesia adalah produsen teh nomer 6 didunia.

Meski teh oplosan Jawa adalah teh yang terpinggirkan dari dunia teh global, bagi saya mereka tetap jagoan. Mereka terpinggirkan bukan karena kesalahannya. Itu soal selera. Oleh karenanya, di hari terakhir kami di Solo, kami mampir ke toko “Sami Luwes” yang menyediakan aneka teh Jawa. Kami memborong aneka merek teh kampung yang sulit diperoleh di Jakarta. Kita bertekad untuk meng-oplos teh, dan Mabuk Teh Oplosan. Selamat meng-oplos.





Labels: ,

Geef Mij Maar Nasi Pecel

Kalau Wieteke Van Dort dulu punya extended version dari lagu “Geef Mij Maar Nasi Goreng”, mungkin ia akan menambahkan menu nasi pecel dalam lagunya. Karena nasi pecel adalah cerminan bangsa Indonesia yang agraris dan beragam. Menjadi bangsa Indonesia adalah juga menjadi bangsa yang sederhana namun menyimpan banyak makna. Nasi Pecel adalah abstraksi filosofi tersebut. Dalam sepiring nasi pecel, kita menemukan kesederhanaan, keragaman, dan makna jati diri kita. Mulai dari masyarakat pinggiran, tengah, hingga atas, semua makan nasi pecel. Mulai dari warung kaki lima, hingga restoran bintang lima, semua menyajikan nasi pecel.

Sebagai pecinta pecel, saya selalu mencoba menelusuri berbagai tempat untuk mencicipi nasi pecel lokal. Mengapa demikian? Karena “Not All Nasi Pecel Are Created Equal”. Nasi pecel tak pernah disajikan sama. Meski pilar dasar dari pecel, yaitu sayur dan bumbu kacang, selalu ada, namun jenis sayur yang dipilih, sambal yang ditaburkan, hingga kondimen dan kerupuknya, tak pernah sama. Setiap orang punya favorit pecelnya masing-masing. Dan perbedaan itu tidak jadi masalah. Esensi filosofi dari nasi pecel adalah “keserbabolehan”. Tak ada campuran yang salah, semua bisa ditafsirkan. Dan kita masih bisa menyebutnya, Nasi Pecel.

Di Yogya, ada pecel wader yang terkenal. Warung milik Bu Amat ini lokasinya di jalan menuju Bandara Internasional Adi Sucipto. Kalau kita menuju Bandara pasti tidak akan melewatkan plang nama warung bu Amat. Berbeda dengan pecel yang biasanya hanya menyajikan sayur dengan bumbu pecel, di sini, pecel diperkaya dengan ikan wader. Ini adalah ikan goreng kecil-kecil yang rasanya sangat renyah dan gurih. Wader menjadi ciri khas pecel bu Amat. Kelembutan sayur, segarnya bumbu pecel, ditambah dengan crunchiness dari wader. Hmmm... sungguh mantab dan lezat.


Di Blitar, Madiun, dan Kediri, nasi pecel disajikan berbeda lagi. Pecel versi daerah ini menggunakan bunga honje merah, bunga turi putih, bersama dengan sayur mayur. Rasa bunganya meninggalkan aroma nan menusuk indah di langit-langit mulut kita. Masih ditemani lagi dengan rempeyek kacang, lalapan khas pecel seperti biji lamtoro (petai cina), kemangi, plus irisan dadu ketimun segar…hmmm…..segarnya. Cita rasanya juga berbeda. Pecel Madiun terkenal lezat dan pedas, pecel Blitar terkenal manis, dan pecel Kediri terkenal akan sambal Tumpangnya.

Di Solo, ada Pecel Ndeso (yang juga membuka cabang di Yogya – sebelah Hyatt). Variasinya lain lagi. Sayuran pecelnya komplet, disajikan dengan tiga macam dressing, yaitu: sambal kacang yang umum, sambal tumpang yang khas, atau sambal wijen yang istimewa. Nasinya pun bisa pilih: boleh nasi putih atau nasi dari beras merah. Kalau ke Warung Pecel Ndeso, kita akan melihat lauk-pauk tambahan untuk nasi pecel "ditebar" di atas meja lebar. Ada tempe dan tahu bacem, tempe kemul (tempe yang digoreng dengan salut tepung), wader goreng, empal dan jeroan goreng, dan banyak lagi lainnya. Godaan untuk memilih lauk yang menggairahkan ini sulit ditolak.

Tak jauh di depan hotel Orchid Batu, Malang, saya menemukan lagi satu warung pecel yang lezat. Warung kecil ini milik bu Anna, yang membuka warung sejak tahun 2000. Kelebihan nasi pecel bu Anna adalah pada kesegaran bumbu pecelnya. Kalau biasanya bumbu pecel menggunakan asam jawa, bu Anna justru menggunakan tomat. Rasa asamnya khas, dan segar. Bumbu ini tak tahan lama, oleh karena itu ia selalu membuat bumbu pecel baru di setiap piringnya. Di situlah letak rahasia kesegaran rasa pecel bu Anna. Rasa asamnya diperoleh dari tomat segar. Soal sayur, pilihannya juga beda. Nasi Pecel bu Anna menggunakan daun sawi bungkuk dan sawi asin. Rasanya pahit dan segar. Hmmm lezat. Untuk lauk, taburan srundeng, tahu, dan ayam goreng menambah lezat nasi pecel bu Anna.

Tak hanya di Jawa. Di Bukittinggi, kita mengenal Pecel dengan sebutan Pical. Warung yang terkenal adalah Pical Sikai di daerah Ngarai Sianok. Pical Sikai mulai berjualan sejak tahun 1950-an dan tetap memiliki cita rasa yang sama hingga sekarang. Apa yang khas dari Pical ini adalah daun pakis yang digunakannya. Rasanya segar dan nikmat.

Berbagai sajian nasi pecel nusantara tersebut menunjukkan betapa keragaman telah menjadi kekayaan bangsa ini. Keragaman tampilan, kesederhanaan, keserbabolehan, dan kemauan untuk menerima perbedaan, adalah filsofi dari sepiring nasi pecel.
Dari sepiring nasi pecel, kita belajar kehidupan. Dari sepiring nasi pecel, kita menyadari hakikat diri kita sebagai bangsa. Bahwa bangsa ini adalah bangsa agraris yang sederhana, namun kaya makna.

Selamat makan nasi pecel....

Labels: , , ,

The Galbi Party

It was late at night and we were completely starving. Joanne, a Singaporean foodie, insisted to try Galbi. We were in Insa Dong, a historic culture area in Seoul, South Korea. In Insa-dong, you have to experience traditional aspects of Korea, including the cuisine. And there was one Korean Restaurant that serves Galbi as their favorite menu. The night before, with friends from Thailand and Philippines , I tried another Galbi in Gangbeyon. It was Natoch, who become the "food searching" leader that night. Strolling around Techno Mart and found one Galbi Restaurant. Then, there was a Galby Party. For me, its two days in a row . Full of Galbi.

Galbi is one of the famous Korean cuisine that is made with overnight marinated beef short ribs in a ganjang-based sauce (Korean soy sauce). Galbi is grilled over charcoal or a gas build into the center of the table and served with varieties of vegetables .

 Well, I'd been nibbling around Korean Restaurant in Jakarta, eating kind of Galbi. My fellow foodie, Harry Baskoro, had invited me once to try Galbi at Koreana Restaurant in Jakarta. But I'd never been to Korea, to the source. I'd been, to be honest, astonished by the sensuality of Galbi. Uncooked ribs served on the plate with aromatic scent. It gets stronger as it grilled. Plates of kimchi, seaweed soup, samjang sauce (a sauce made of fermented bean curd and red pepper paste), lettuce, perilla leaf (mint leaf), and other vegetables, enriched the taste of Galbi. Each will find a way in increments into the mixture of Galbi before disappearing down to our stomach.

Hmmmm, it was a very wonderful party. Just show up there with an open mind and an empty stomach, try anything that served on the table, and enthusiasm is indeed enough. We started to grill slices of beef over a small gas plate at the center of the table, turning the meat with chopstick, small plumes of smoke issuing from the plate as juice from the meat strikes out. Whoooa ... it really numb the mouth, engorge the lips, thicken the saliva, and quicken the pulse. The smell coming from the grilled meat maddeningly good. We were just sat impatience, wait till its ready.

 When its ready, dipped the meat into the samjang sauce.Then grab the vegetables, take a slice of lettuce and perilla leaf. Put the meat into the leaf, add with garlic, mushroom, chilies. Then, you wrap the meat in the leaves, slowly, you dunk and chew. Hmmmm, you will find a mixture of experience in your mouth. Sweet, sour, hot, spicy, meaty, crunchy, forceful taste from the perilla, with just the right amount of caramelization and flavor from the grilling. Not until an hour, we finished the Galbi.

Joanne said that it wouldn't be a party without traditional Korean liquor. Well, I dont drink, but I can watch them drink. Korean liquors are made chiefly from grains, rice, or sweet potatoes with kneaded wheat malt. The famous is yakju . One bowl of yakju is enough. I believe that good drinks (beer or wine) and fancy food should be kept separate. Too much of good things haaa ....

Well, time goes by, stomach is full, and the party is over. I think I'll come back some day.For the Galbi Party

You should try it, brother, you should try it ....









Labels: , , , ,