Saturday, December 18, 2010

Tak Semua Nasi itu Sama

Rambut boleh sama hitam, tapi pikiran bisa berbeda. Pun demikian dengan beras. Warna beras boleh sama putihnya, tapi soal rasa, nanti dulu. Dari beraneka ragam beras putih di dunia ini, beras Jepang adalah salah satu yang terbaik. Rasanya pulen, plump, moist, dan teksturnya pas. Sebagaimana di Indonesia, beras juga menjadi makanan pokok masyarakat Jepang. Sebagai makanan pokok, orang Jepang tentu sangat memerhatikan kualitas dan kelezatan dari berasnya. Jangankan untuk makanan pokok, untuk hal-hal kecil saja orang Jepang sangat memerhatikan kualitas kan? Apalagi untuk berasnya.

Namun, tak semua beras Jepang itu juga sama. Dari semua beras Jepang yang enak, masih bisa dibeda-bedakan lagi tergantung pada daerah penanaman, maupun musim panennya. Dan, musim gugur kemarin adalah saat yang tepat untuk mencicipi beras Jepang. Musim gugur adalah musim panen beras di Jepang. Beras Jepang yang diproduksi pada musim itu, adalah beras terbaik yang ada di Jepang. Beras itu juga terasa lebih lezat dibanding beras pada bulan-bulan lainnya.

Orang Jepang menyebut beras yang baru dipanen tersebut dengan nama shinmai. Shin merujuk pada bahasa Jepang yang berarti baru. Shin digunakan juga untuk menyebut sesuatu yang baru atau beginner. Menurut Kementrian Pertanian Jepang, hanya beras yang dipanen dan dijual pada tahun yang sama bisa disebut shinmai. Kalau ia sudah melewati tahunnya, ia disebut dengan beras lama (komai). Meski lama, beras komai masih boleh dijual dan dipasarkan dengan standar tertentu.

Beras shinmai ini muncul di supermarket sejak awal musim gugur hingga akhir tahun. Masa-masa 3 bulan itu adalah masa “the best” dari beras Jepang baru panen. Oleh karenanya, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencicipi beras shinmai ini.

Dari berbagai jenis yang ada, favorit saya adalah beras koshihikari yang dipanen di daerah Niigata. Karena daerah Niigata merupakan daerah pertanian, maka rasa berasnya tentu jagoan. Kalau anda sensitif terhadap beras, tentu dapat merasakan beda antara nasi yang diproduksi dari beras shinmai atau nasi yang diproduksi dari beras komai.

Meski keduanya bisa sama-sama pulen, kelembutan teksturnya berbeda. Perbedaannya memang tipis, namun kalau sudah mencicipi shinmai, anda akan merasakan efek “aha” dari kelembutannya. Shinmai memiliki tekstur kepulenan yang lebih terasa dibanding beras biasa. Kesegarannya melekat di langit-langit mulut.

Cara terbaik menguji kelezatan nasi dari beras shinmai adalah memakannya “as it is”. Satu piring atau bowl nasi, cukup taburi dengan sedikit nori atau ikan teri. Tak perlu lauk pauk. Cobalah. Saat saya memakannya, hhmmmmppphhh, inilah nasi terenak yang pernah saya rasakan. Begitu lembut dan nikmat. Lupakan dulu lauk pauk, tetaplah pada keminimalan rasa nasi. Anda akan menemukan kelezatan yang tak tepermanai. Ingin coba model lainnya, cobalah dalam bentuk onigiri atau nasi sekepal yang dibungkus nori (rumput laut). Nasinya terasa lezat karena bercampur dengan nori dan tentu saja topping yang digunakan.

Sebelumnya, saya tidak percaya legenda Dewi Sri sebagai Dewi Padi. Tapi setelah mencicipi beras shinmai, saya merasakan seolah Dewi Sri itu benar-benar ada. Dan di beras shinmai inilah, Dewi Sri mengejawantah. Hmmmmpph.

Salam beras shinmai.

Labels:

Wednesday, December 01, 2010

Aneka Kit Kat Rasa Jepang


Jepang memang tak pernah habis dengan ide kreatif. Bukan hanya di bidang tekhnologi hingga kartun manga, di bidang penganan kecil, inovasi juga dilakukan oleh Jepang. Salah satu yang menarik dan menjadi "fenomena nasional" di Jepang adalah inovasi rasa dari coklat wafer “Kit Kat”. Hampir setiap teman yang mampir Jepang pasti memburu Kit Kat sebagai oleh-oleh.

Apa istimewanya Kit Kat Jepang? Kalau di Indonesia hanya ada satu rasa Kit Kat, di Jepang ada lebih dari 20 rasa. Bahkan kalau dirunut secara sejarah, ada sekitar 80 rasa Kit Kat yang pernah diciptakan di Jepang. Kit Kat pun kemudian menjadi oleh-oleh paling eksotis dari Jepang.

Apa saja rasa Kit Kat yang ada di Jepang? Mulai dari strawberry, green tea, almond, jeruk, kentang, jagung bakar, miso sup, shoyu atau kecap asin, hingga wasabi dan melon. Eksotis bukan? Tapi, tahukah anda rasa kit kat apa yang paling populer di Jepang? Menurut info dari Nestle, ternyata bukan rasa strawberry atau green tea, melainkan shoyu. Penjualan tertinggi Kit Kat di Jepang adalah rasa kecap asin. Aneh bukan hehehe….

Hal menarik dari aneka ragam Kit Kat itu adalah perkara lokalitas rasa. Anda tak bisa mendapatkan dengan mudah berbagai rasa Kit Kat tersebut, karena kerap hanya diproduksi di satu wilayah tertentu dan satu musim tertentu. Di daerah Hokkaido, diciptakan Kit Kat rasa melon dan jagung bakar. Di Tohoku, ada Kit Kat rasa kacang polong dan cherries. Di Pulau Kyushu, ada Kit Kat rasa buah yuzu dan kentang merah. Di Tokyo, ada Kit Kat rasa ubi manis, cheese blueberry, soybean, jeruk, lemon cola, wasabi, dan tentu kesukaan saya, yaitu ... green tea.

Apa rahasia sukses Kit Kat di Jepang? Menurut cerita teman-teman, kalimat Kit Kat kalau dibaca dalam bahasa Jepang menjadi “Kitto Katsu”, artinya semacam “Semoga Sukses”, atau secara harfiah “Kamu pasti Bisa!!”. Inilah yang menyebabkan Kit Kat jadi semacam jimat yang sering dibawa anak-anak di Jepang kalau mau ujian.

Jadi, kalau anda main ke Jepang, tak perlu bingung mencari oleh-oleh. Cukup berhenti sebentar di airport dan temukanlah aneka rasa Kit Kat yang kebetulan sedang musim saat itu. Kitto Katsu, Ayo Kamu Bisa !!

Inilah aneka kit kat yang sedang saya cicipi. Ada Break, Ada Kit Kat … :)








Labels: , ,

Jajan Hotteok di Seoul

Seoul terkenal dengan aneka jajanan kaki lima yang unik dan lezat. Salah satu yang jadi favorit saya adalah Hot Teok. Ini adalah jajanan minimalis, namun rasanya tak terlupakan. Hot Teok umumnya hanya muncul di musim-musim tertentu, biasanya menjelang musim dingin atau musim semi.

Hot teok banyak dijual di seantero Seoul. Mas Kelik, mantan diplomat kita di KBRI Seoul, dulu pernah merekomendasikan daerah Insadong kalau mau cari hot teok yang enak. Sejak itu, kalau mampir ke Seoul, saya selalu mencoba untuk melipir ke Insadong dan mencicipi hot teok. Memang tak salah. Lokasi Insadong yang ramai dengan turis menjadikan hot teok semacam ikon jajanan di daerah itu.

Usai sidang puncak G-20 di Seoul pekan lalu, saya mencoba kembali untuk melipir ke daerah ke Insadong. Sesampai di Insadong, terlihat antrian para pembeli hot teok telah memanjang hingga ke ujung jalan. Memang jajanan ini cukup hip dan happening buat masyarakat Seoul maupun para turis. Kita bisa mengantri sekitar 15 hingga 30 menit untuk mendapatkan hot teok. Harganya juga murah, sekitar 1000 Won atau 8000 Rupiah untuk sepotong hot teok.

Sebagai penganan, sebenarnya hot teok ini tidak terlalu istimewa. Ia lebih mirip kue serabi atau pancake kalau di Indonesia. Hotteok dibuat dari adonan tepung, telur, dan campuran lainnya yang kemudian diisi oleh gula merah atau caramel. Adonan ini dibuat bulat-bulat dengan tangan, kemudian diletakkan di panggangan yang panas mendidih. Penjual hot teok kemudian menekan adonan dengan alat untuk meratakannya hingga menjadi semacam pancake. Setelah berwarna kuning keemasan, hot teok siap disajikan.

Soal rasa, hot teok sungguh enak dicicip sebagai camilan di tengah udara yang dingin menggigit. Tekstur hot teok adalah perpaduan kekenyalan antara roti dengan mochi. Rasanya lembut tapi mengandung unsur chewy yang kenyal-kenyal hangat. Apalagi saat kita menyentuh kelembutan gula dan caramel yang meleleh di dalamnya.

Di tengah udara dingin, hot teok enak dimakan panas-panas. Itulah makanya dinamakan HOT teok. Ho adalah tiruan ungkapan dari orang yang meniup makanan panas.. ho ho ho

Selamat mencicipi Hot Teok kalau anda mampir ke Seoul. Salam.

Labels: ,